INGAT,,TUGAS ORBAPSIKOL,,,,
MEMBUAT ARTIKEL TENTANG PENGARUH BUDAYA SETEMPAT TERHADAP PENDIDIKAN ANAK.
KUMPULNYA,,,BESOK..
Anak Usia Dini adalah asset bangsa, oleh karenanya harus diperhatikan betul sejak dini, masa - masa emas hanya sebentar,,0 - 6 tahun,,optimalkanlah pada usia ini,,,
Selasa, 29 Januari 2013
Senin, 28 Januari 2013
UTS MATA KULIAH ORIENTASI BARU PSIKOLOGI PENDIDIKAN
KEMENTERIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS
NEGERI JAKARTA
PROGRAM
PASCASARJANA
Kampus
Universitas Negeri Jakarta,Jl.Rawamangun Muka, Jakarta 13220
UJIAN TENGAH SEMESTER
|
Mata
Kuliah
|
:
Orientasi Baru Psikologi dalam Pendidikan
|
|
Dosen
|
:
Dr. Yufiarti, M.PSi
|
|
Nama
Mahasiswa
|
:
Murniati M
|
|
Prodi
|
:
PAUD/C/2012
|
|
No.
Reg.
|
:
7516120258
|
1.
Jelaskan
yang dimaksud orientasi baru psikologi pendidikan
Jawaban:
Orientasi baru psikologi pendidikan
yaitu perkembangan dari aliran belajar Humanisme yang berpendapat bahwa manusia
pada dasarnya dilahirkan baik. Aliran belajar ini melahirkan konsep baru yaitu
neurosains dan kognitif. Manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk
merubah dirinya. Psikologi humanistic beranggapan bahwa seseorang bebas untuk
memilih dan menentukan tindakannya sendiri. Konsep humanistic ini berkembang
dari ide eksistensialis yang menganggap
kualitas manusia yang membedakan dengan hewan adalah kebebasan berkehendak dan
dorongan untuk aktualisasi diri. Setiap manusia mempeunyai kecenderungan untuk
mengembangkan potensinya.
Eksistensialisme menekankan
pentingnya kewajiban individu pada sesama manusia yaitu apa yang dapat
diberikan kepada sesama “ one life can be
ful filling only if it involves socially contructive values and chices.”[1]
Pendapat ini menjelaskan bahwa hidup kita baru bermakna jika melibatkan
nilai-nilai dan pilihan yang konstrukstif secara social. Carl Rogers mengutip
pendapat Coleman dan Hammen dalam Jalaluddin (1986), bahwa:
a) Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi dimana
dia Sang Aku. Ku, atau diriku (the I, me, or myself ) menjadi pusat.Perilaku
manusia berpusat pada konsep diri.
b) Manusia berperilaku untuk
mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.
c) Individu bereaksi pada situasi
sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya yang bereaksi pada
realitas.
d) Anggapan adanya ancaman terhadap
diri akan didikuti oleh pertahanan diri.
e) Kecenderungan bathiniah manusia I menuju kesehatan dan keutuhan diri.
2.
Berikan
contoh penerapannya dalam PAUD
Sebagai contoh Orientasi baru psikologi pendidikan dalam Pendidikan
Anak Usia Dini yaitu :
- Berpusat pada anak, Prakarsa kegiatan tumbuh dari anak dan anak memilih bahan-bahan dan memutuskan apa yang akan dikerjakan. Anak juga mengekspresikan bahan-bahan secara aktif dengan seluruh inderanya.
- Bermain sambil belajar. Kegiatan bermain merupakan pekerjaan yang serius bagi anak. oleh karena itu guru harus mampu menyiapkan permainan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. salah satu permainan yang bisa dikembangkan oleh guru adalah permainan berbasis budaya lokal atau permainan tradisional.
- Guru sebagai fasilitator. Model pembelajaran saat ini sebaiknya mengembangkan Student Center Learning. Jadi, proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru.
- Proses pembelajaran lebih mengutamakan pada peningkatan kecerdasan emosional daripada kemampuan kognitif anak. Kalau dulunya guru-guru lebih menekankan kepada siswa agar bisa menguasai materi yang diberikan oleh guru, maka pembelajaran saat ini bukan hanya untuk meningkatan kemampuan kognitif siswa tetapi juga kecerdasan emosionalnya
- Mengajarkan anak tentang nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran. Penanaman nilai-nilai ini bisa dilakukan melalui metode bercerita. Guru menyampaikan cerita-cerita teladan kepada anak yang di dalamnya terkandung nilai-nilai karakter yang bisa diteladani oleh anak.
- Proses pembelajaran sebaiknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga dilakukan di luar kelas. Guru juga bisa memanfaatkan tempat-tempat edukatif lainnya dalam proses pembelajaran, misalnya museum, kebun binatang, dan sebagainya.
3.
Bagaimana
meningkatkan kemandirian anak di PAUD.
Jawaban:
Kemandirian
anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika
definisi mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk
bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan
untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas
perkembangan.
Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini adalah belajar berjalan,
belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan
lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral. Apabila seorang anak
usia dini telah mampu melakukan tugas perkambangan, ia telah memenuhi syarat
kemandirian.
Tetapi, untuk membentuk kemandirian anak usia dini itu gampang-gampang susah.
Hal ini tergantung dari orang tua anak dalam memperhatikan pertumbuhan dan
perkembangan psikologis anak. Tentu saja ini merupakan tugas orangtua untuk selalu
mendampingi anaknya, sebab orangtua adalah lingkungan yang paling dekat dan
bersentuhan langsung dengan anak. Peran orangtua atau lingkungan terhadap
tumbuhnya kemandirian pada anak sejak usia dini merupakan suatu hal yang
penting. Hal ini mengingat bahwa kemandirian pada anak tidak bisa terjadi
dengan sendirinya. Anak perlu dukungan, seperti sikap positif dari orangtua dan
latihan-latihan ketrampilan menuju kemandiriannya. [2]
Dalam menanamkan
kemandirian pada anak, hindarilah perintah dan ultimatum Karena dapat membuat
anak selalu merasa berada di bawah orangtua dan tidak mempunyai otoritas
pribadi. Disiplin dan rasa hormat tetap bisa dilatih
tanpa Anda menjadi galak pada anak. Mengarahkan, mengajar serta
berdiskusi dengan anak akan lebih efektif daripada memerintah, apalagi bila
perintah tidak didasari dengan alasan yang jelas. Lama kelamaan anak akan
bergantung pada perintah atau larangan Anda dalam melakukan segala sesuatu. Senantiasa
katakan dan tunjukkan cinta, kasih sayang serta dukungan pada balita secara
konsisten, hal ini akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Dengan demikian dia
akan lebih yakin pada dirinya, serta tidak ragu untuk mencoba hal-hal yang
baru.
Orangtua juga harus bersikap positif pada
anak, seperti: memuji, memberi semangat atau memberi pelukan hangat sebagai
bentuk dukungan terhadap usaha mandiri yang dilakukan anak. Adanya penghargaan
atas usaha anak untuk menjadi pribadi mandiri, terlepas dari apakah pada saat
itu ia berhasil atau tidak. Dengan tumbuhnya perasaan berharga, anak akan
memiliki kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang
selanjutnya. Betapapun kotornya anak pada saat ia mencoba makan sendiri,
betapapun tidak rapinya anak pada saat ia mencoba mandi sendiri, betapapun
lamanya waktu yang dibutuhkan anak untuk memakai kaus kaki dan memilih sepatu
atau baju yang tepat, hendaknya orangtua tetap sabar untuk tidak bereaksi
negatif terhadap anak, seperti mencela atau meremehkan anak. Apabila
orangtua/lingkungan bereaksi negatif atau tidak menghargai usaha anak untuk
mandiri, maka hal ini akan berdampak negatif pada diri anak, seperti anak bisa
tumbuh menjadi seorang yang penakut, tidak berani memikul tanggung jawab, tidak
termotivasi untuk mandiri dan cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah.
Selain itu, untuk menjadi pribadi mandiri,
seorang anak juga perlu mendapat kesempatan berlatih secara konsisten
mengerjakan sesuatu sendiri atau membiasakannya melakukan sendiri tugas-tugas
yang sesuai dengan tahapan usianya. Orangtua atau lingkungan tidak perlu bersikap terlalu cemas,
terlalu melindungi, terlalu membantu atau bahkan selalu mengambil alih
tugas-tugas yang seharusnya dilakukan anak, karena hal ini dapat menghambat proses
pencapaian kemandirian anak. Kesempatan untuk belajar mandiri dapat diberikan
orangtua atau lingkungan dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan pada anak
untuk melakukan tugas-tugas perkembangannya. Namun demikian peran orangtua atau
lingkungan dalam mengawasi, membimbing, mengarahkan dan memberi contoh teladan
tetap sangat diperlukan, agar anak tetap berada dalam kondisi atau situasi yang
tidak membahayakan keselamatannya. Bagi anak-anak usia dini, latihan
kemandirian ini bisa dilakukan dengan cara melibatkan anak dalam kegiatan
praktis sehari-hari di rumah, seperti melatih anak mengambil air minumnya
sendiri, melatih anak untuk membersihkan kamar tidurnya sendiri, melatih anak
buang air kecil sendiri, melatih anak menyuap makanannya sendiri, melatih anak
untuk naik dan turun tangga sendiri, dan sebagainya.
Selain
bersikap positif dan selalu mendukung anak, praktek kemandirian juga perlu
diajarkan kepada anak melalui materi ketrampilan hidup dengan konsep-konsep
sederhana. Seperti contoh: si anak diajarkan untuk mengerti bahwa semua barang
miliknya (sepatu, mainan, boneka, buku cerita dll) diperoleh karena orangtua
bekerja untuk mndapatkan penghasilan supaya mampu membeli semua yang dia
butuhkan. Karena itu, perlu adanya sikap tegas terhadap anak bahwa tidak semua
yang dia inginkan harus dipenuhi pada saat itu juga. Perlu ada waktu menunggu
atau mengajarkan si anak untuk menabung terlebih dahulu sebelum membeli
sesuatu. Dengan konsep seperti itu, dalam diri anak akan tertanam nilai untuk
menghargai jerih payah orang tua sekaligus belajar menjadi pribadi mandiri.
Materi yang bersifat akademis bisa dikatakan sebagai salah satu dari sekian
banyak mata pelajaran yang harus dipelajari anak. Yang utama adalah ketrampilan
anak untuk menjadi seorang yang mandiri. Banyak manfaatnya jika pelajaran
mengenai kemandirian diberikan pada anak usia dini. Tidak hanya teori,
melainkan mengajak anak untuk mempraktekannya dengan konsep-konsep sederhana
tanpa harus menunggu lulus SMA atau lulus Perguruan Tinggi. Tentu hasilnya akan
lebih efektif dan maksimal jika hal itu diajarkan pada usia dini.
Semakin dini usia anak untuk berlatih mandiri dalam
melakukan tugas-tugas perkembangannya, diharapkan nilai-nilai serta ketrampilan
mandiri akan lebih mudah dikuasai dan dapat tertanam kuat dalam diri anak.
Untuk menjadi pribadi mandiri, memang diperlukan suatu proses atau usaha yang
dimulai dari melakukan tugas-tugas yang sederhana sampai akhirnya dapat
menguasai ketrampilan-ketrampilan yang lebih kompleks atau lebih menantang,
yang membutuhkan tingkat penguasaan motorik dan mental yang lebih tinggi. Dalam
proses untuk membantu anak menjadi pribadi mandiri itulah diperlukan sikap
bijaksana orangtua atau lingkungan agar anak dapat terus termotivasi dalam
meningkatkan kemandiriannya.
Sabtu, 26 Januari 2013
KELUARGA DITINJAU DARI SUDUT PENDIDIKAN
FAKTOR UTAMA PENDUKUNG KETAHANAN KELUARGA
DITINJAU DARI SUDUT
PENDIDIKAN
Oleh: Murniati Malla
(Mahasiswa
Pascasarjana UNJ 2012)
A. PENDAHULUAN
Perkembangan kependudukan dan pembangunan
keluarga sejahtera dijelaskan dalam UU Nomor 10 Tahun 1992 pasal 1 ayat 15
kemudian dipertegas lagi dengan PP Nomor 21 Tahun 1994 tentang penyelenggaraan
pembangunan keluarga sejahtera pasal 1 ayat 6 yang dijelaskan sebagai berikut:
“
Ketahanan Keluarga adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan
dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik, materil, dan psikis, serta
mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dalam keluarganya
untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan
bathin.”[1]
Uraian tersebut di atas menunjukkan bahwa dalam satu keluarga dibutuhkan suatu keuletan dan ketangguhan. Keuletan ditandai dengan sifat yang tidak mudah
menyerah, tidak rapuh, maju terus pantang mundur, dan selalu berusaha agar
tujuannya berhasil. Semua masalah yang melintang dihadapannya dihadapi dengan
tenang, sabar, ikhlas, dan bijaksana dan tentu saja di dalamnnya ada unsur
taktik atau strategi pemecahannya. Ketangguhan, adalh sifat yang tidak mudah
terpengaruh dengan dunia luar, orang lain. Orang tangguh cenderung kuat
pendirian, jiwa dan raga selalu stabil, memiliki prinsip hidup, berani
bersikap, mental yang kuat, sehingga tidak mudah terombang-ambing.
Jika setiap anggota keluarga mampu seperti
yang disebut di atas, maka kehidupan keluarga akan berlangsung harmonis, sehat
lahir bathin, sejahtera dunia-akhirat.
B. FAKTOR – FAKTOR PENDUKUNG KETAHANAN
KELUARGA
Pada
dasarnya, banyak factor yang mendukung ketahan suatu keluarga. Tetapi pada
uraian kali ini hanya disebutkan beberapa saja diantaranya adalah:
a. Keutuhan
Keluarga
Keluarga
yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan biasanya ada kakek, nenek, bibi, mertua
dan saudara. Masing-masing anggota keluarga harus tahu tugas dan tanggung
jawabnya, bekerjasama dalam keluarga, memberi dan menerima, keterbukaan, adil
dan bijaksana. Jika terjadi dinamika dalam keluarga maka setiap anggotanya
dapat menenmpuh musyawarah untuk jalan
keluarnya.
b. Keharmonisan
Keluarga
Jika
keutuhan keluarga sudah dipertahankan, maka akan tercipta namanya harmonis.
Dalam keharmonisan keluarga ada namanya saling percaya antara suami dan isteri,
anak dan orang tua, begitupun dengan yang lainnya. Keharminisan bisa terjadi
jika unsure atau suasana tenang, damai, hormat-menghormati, perhatian, dan
saling menghargai itu ada diantara anggota keluarga.
c. Social
Ekonomi Keluarga
Kondisi
ekonomi keluarga ada yang stabil dan ada yang labil. Ekonomi yang stabil yaitu
yang memilki pendapatan tetap dan mampu mencukupi segala keperluan anggota
keluarganya. Ekonomi yang labil yaitu yang masih lompat sana-sini mencari
pekerjaan yang dapat menyambung hidup dan keperluan anggota keluarganya.
Kondisi ekonomi ini sangat perpengaruh dalam ketahanan suatu keluarga. Suami-isteri
harus bekerjasama dan saling pengertian dalam menanggung segala keperluan dalam
keluarga, jadi tak heran jika suami isteri bekerja banting tulang mencari
nafkah supaya penghasilannya cukup.
d. Tingkat
Pendidikan
Tingkat
pendidikan yang tinggi akan berpengaruh pada cara memimpin dan mengarahkan
anggota keluarga lainnya terlebih lagi membimbing anak. Banyak kecenderungan
dari orang tua yang tingkat pendidikannya tinggi maka ketahanan keluarganya
lebih baik pula. Dari pengetahuan yang dimiliki akan dapat memberikan hasil
berupa material atau kekuatan mental yang lebih tinggi.
e. Kesehatan
Keluarga
Kesehatan
sangat menetukan ketahanan dalam keluarga. Jika dalam satu keluarga ada yang
sakit maka semau merasakan sakit. Apalagi jika yang sakit adalah anak, maka
orang tua pun terlibat sakit dalam hal
ini efek pada konsentrasi pekerjaan dan kegiatan untuk mencari nafkah. Faktor
makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam menunjang kesehatan keluarga perlu
diperhatikan. Ini salah satu cara agar keluarga tetap sehat sehingga ketahanan
tetap terjaga.
f. Jumlah
Anak
Keluarga
yang memiliki jumlah anak yang besar maka perlu biaya yang besar pula. Angapan
orang – orang dahulu bahwa banyak anak banyak rezki spertinya dala era ini
kurang efektif mengingat kebutuhan dan harga barang cenderung meningkat yang
tidak sebanding dengan pekerjaan atau penghasilan yang memadai.
Anak-anak
dalam keluarga sangat beraneka ragam sifat dan karakternya. Tentunya ada yang
penurut, nakal, bandel, dan unik. Disinilah peranan pendidikan orang tua untuk
mengarahkan anak.
g. Agama
Yang
tidak kalah penting adalah pendidikan agama. Pendidikan agama sebaiknya dimulai
dari sejak dini yang berlangsung dalam keluarga. Keteladana orang tua sangat
pengaruh, jika orang tua melaksanakan sholat maka anak cenderung meniru.
Perilaku anak yang senang meniru dan mencontoh orang tua itu berlangsung di
dalam keluarga setelah itu baru ke lingkungannya.
C. PENUTUP
Ketahanan
keluarga dapat tercipta jika ada keharmonisan, keutuhan , saling percaya,
saling menghargai, dan menjalankan tugas dan tanggungjawab masing-masing
anggota keluarga.
Keluarga
yang kuat, tangguh, dan kokoh akan melahirkan bangsa yang kuat pula. Pendidikan
yang utama berlangsung di dalam keluarga, olehnya itu keteladana orang tua,
cara bersikap, perilaku, dan agama sangat menentukan pola kepribadian anak.
Semoga keluarga kita damai sejahtera, lahir bathin.
PENERAPAN TIK PADA PEMBELAJARAN DI PAUD
TIK
DALAM PEMBELAJARAN PAUD
Oleh:
Murniati M
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Memasuki
milenium ke tiga Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan
masyarakat menuju era baru, yaitu globalisasi yang menyentuh semua aspek
kehidupan. Dalam era global ini seakan dunia tanpa jarak. Komunikasi dan
transaksi ekonomi dari tingkat lokal hingga internasional dapat dilakukan
sepanjang waktu. Demikian pula nanti ketika perdagangan bebas sudah
diberlakukan, tentu persaingan dagang dan tenaga kerja bersifat multi bangsa.
Pada saat itu hanya bangsa yang unggullah yang anak mampu bersaing.
Pendidikan
merupakan modal dasar untuk menyiapkan insan yang berkualitas. Menurut
Undang-undang Sisdiknas Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut UNESCO
pendidikan hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to know,
learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Pada hakikatnya
belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang
berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal ini melalui Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan bagi anak sejak lahir
hingga usia 6 tahun. Sejak dipublikasikannya hasil-hasil riset mutakhir di
bidang neuroscience dan psikologi maka fenomena pentingnya PAUD
merupakan keniscayaan. PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan
dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian
pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut the golden age (usia
emas).
Dengan
diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 maka sistem pendidikan di Indonesia
terdiri dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah,
dan pendidikan tinggi yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistemik.
PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. PAUD dapat
diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul
Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan
nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau
bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk
pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.[1]
Dalam upaya
pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut, diperlukan adanya sebuah
gerakan bagaimana penerapan TIK dalam Pembelajaran di PAUD mengingat belajar
adalah bersenang-senang[2],
bermain sambil belajar, dan belajar seraya bermain.
B. Tujuan
Tujuan Penerapan TIK dalam Pembelajaran
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah
a. TIK
sebagai sumber belajar
b. TIK
sebagai media pembelajaran
TIK
Sebagai sumber belajar :
q Menjawab
Kebutuhan Informasi :
- Mengintegrasikan TIK sebagai sumber belajar
- Memastikan
alamat-alamat situs yang akan dikunjungi
- Mengembangkan
LKS berbasis PBK
- Membuat lembar refleksi diri
q Layanan Yang Cepat dan Murah meliputi;
- Meninggalkan
kebiasaan satu sumber belajar
- Menggunakan
ANEKA sumber belajar
- Mengefektifkan penggunaan internet
q Informasi Terkini
- Menyediakan informasi terkini/baru
- CEPAT (
Terkokneksi ke semua sistem jaringan
perpustakaan )
- TERKINI ( Informasi secara teratur diperbaharui )
TIK
sebagai media Pembelajaran :
Tujuan
TIK sebagai media pembelajaran:
- Memberi pengalaman belajar yang berbeda
- Menumbuhkan sikap dan keterampilan BTI
- Menciptakan situasi belajar menyenangkan
- Menjadikan belajar lebih efektif, efisien dan bermakna
- Membuka peluang belajar dimana saja dan kapan saja
- Memberikan motivasi belajar kepada siswa
- Mejadikan belajar sebagai kebutuhan
Tujuan utama TIK dalam Pembelajaran adalah
agar pesan yang disampaikan mudah dimengerti oleh peserta didik .
Pembelajaran bebasis TIK adalah Suatu pendekatan dalam pembelajaran yang
mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sumber
belajar dan sebagai medium penyampaian
pesan dalam pembelajaran. [4]
C. Sasaran
Sasaran implemetasi
TIK ini adalah lembaga-lembaga
penyelenggara PAUD jalur pendidikan formal dan nonformal seperti Taman
Kanak-Kanak, Raudatul Athfal, Kelompok Bermain,Taman Penitipan Anak, dan Satuan
PAUD yang sejenis.
BAB II
LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
A. Landasan Yuridis
1. Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan
bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
2. Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang
Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan
dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya
sesuai dengan minat dan bakatnya”.
3. Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah
suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia
6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang
Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini
diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini
dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau
informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau
bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non
formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini
jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang
diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak
usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)
diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”
B. Landasan Filosofis
Pendidikan
merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses
pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang
“baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan
filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu
bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.
Bangsa
Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan
manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan
manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan
dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika
yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia
juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak
bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak
untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan
potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan.
Melalui pendidikan yang dibangun atas dasar falsafah pancasila yang didasarkan
pada semangat Bhineka Tunggal Ika diharapkan bangsa Indonesia dapat menjadi
bangsa yang tahu akan hak dan kewajibannya untuk bisa hidup berdampingan,
tolong menolong dan saling menghargai dalam sebuah harmoni sebagai bangsa yang
bermartabat.
Sehubungan
dengan pandangan filosofis tersebut maka proses pembelajaran PAUD berdasarkan
pengembangan kurikulum sebagai alat dalam mencapai
tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis
bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.
- Landasan Keilmuan
Landasan
keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dinii didasarkan kepada
beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan
perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur
otak. Menurut Wittrock (Clark, 1983), ada tiga wilayah perkembangan otak yang
semakin meningkat, yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan
sinapsis, dan pembagian sel saraf. Peran ketiga wilayah otak tersebut sangat
penting untuk pengembangan kapasitas berpikir manusia. Sejalan dengan itu
Teyler mengemukakan bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100
milyar hingga 200 milyar sel saraf. Tiap sel saraf siap berkembang sampai taraf
tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari
lingkungan.
Jean Piaget
(1972) mengemukakan tentang bagaimana anak belajar:“ Anak belajar melalui
interaksi dengan lingkungannya. Anak
seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru bisa
menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang
terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu
sendiri, dan ia harus menemukannya sendiri.” Sementara Lev Vigostsky meyakini
bahwa : pengalaman interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi
perkembangan proses berpikir anak. Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat
terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran akan menjadi
pengalaman yang bermakna bagi anak jika ia dapat melakukan sesuatu atas
lingkungannya. Howard Gardner menyatakan tentang kecerdasan jamak dalam
perkembangan manusia terbagi menjadi: kecerdasan bodily kinestetik, kecerdasan
intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalistik, kecerdasan
logiko – matematik, kecerdasan visual – spasial, kecerdasan musik.
Dengan demikian
perkembangan kemampuan berpikir manusia sangat berkaitan dengan struktur otak,
sedangkan struktur otak itu sendiri dipengaruhi oleh stimulasi, kesehatan dan
gizi yang diberikan oleh lingkungan sehingga peran pendidikan yang sesuai bagi
anak usia dini sangat diperlukan.
BAB III
HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
A. Pengertian
Pendidikan Anak
Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir
sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
B. Tujuan
Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah
mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup
dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
3. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam
melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip
sebagai berikut :
a. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan
pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak.
Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya
pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik
perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio
emosional.
b. Belajar
melalui bermain
Bermain
merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk
bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda
di sekitarnya.
c. Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik
dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat
mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
d. Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep
pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus
menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini
dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas
sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.
e.
Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui
berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk
menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin
diri.
f. Menggunakan berbagai media
edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan
alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.
a. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang
Pembelajaran
bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep
yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya
guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .
BAB IV
PENUTUP
Pendidikan
anak usia dini adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi anak usia 0 – 6 tahun.
Pada rentang usia ini, anak memandang segala sesuatu secara utuh, terpadu
holistic. Kurikulum yang dirancang pada pendidikan anak usia dini adalah
berdasarkan tingkat perkembangan kognitif anak yang dan berdasarkan pada
kebutuhan anak, sedangkan sistim pembelajaran harus didesain berdasarkan
kesukaan dan kesenangan anak.
Guru
harus lebih kreatif dan inovatif dalam menggunakan media dan sumber pembelajaran.
Selain lingkungan yang dijadikan sumber dan media pembelajaran, TIK sangat
berperan dalam menumbuhkan semangat dan kreativitas anak untuk belajar, belajar
adalah bersenang-senang, menyenangkan, dan lebih banyak variasi. Anak usia dini
yang dikenal unik, lebih menyukai gambar yang lucu, unik, warna-warni, dan yang
bergerak, maka untuk itu guru perlu mendesain media pembelajaran berbasis TIK
yang dijadikan sebagai media dan sumber pembelajaran. Guru, dalam mendesain
media pembelajaran perlu memperhatikan kriteria pembuatan media bagi anak usia
dini yakni: tidak rumit, mudah dipahami anak, durasi tidak lama, sederhana,
menarik, dan bermakna.
SD Universitas Negeri Jakarta DERPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
[2] Dr.
ROBINSON SITUMORANG(Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.Materi Kuliah
TIK pada prodi PAUD )
[3] Dr.
ROBINSON SITUMORANG ( Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)
[4] Dr.
ROBINSON SITUMORANG ( Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)
Langganan:
Postingan (Atom)